Abdurrahman Faiz mengenang Cak Nur


Abdurrahman Faiz mengenang Cak Nur

“Ini hadiah,” kata Ayah suatu pagi di tahun 2003. “Ia membuatnya dua. Satu untuknya
dan satu untukmu,” suara Ayah lagi.

Lelaki itu mengirimkan sebuah surat dalam bingkai besar yang rapi dan kokoh. Tingginya bahkan hampir setinggi aku! Surat yang kutulis untuk Presiden Megawati
tahun 2003 itu dipasangnya di ruang kerjanya dan satu ia kirimkan untukku. Mengapa ia? Mengapa bukan Ibu Mega? Pikirku. Itulah pertama kali aku mengenal sosoknya. Banyak orang bilang ia satu dari sedikit guru bangsa ini.

Perhatian sekali ya, pikirku tentang lelaki itu. Aku cuma anak kecil, mungkin hanya
menulis dan bicara kosong, tapi ia percaya. Sedang ia sangat terkenal, pintar dalam
berbagai bidang ilmu, dan guru banyak orang.

Desember 2003, Aku masih kelas II di SD Negeri yang dulu. Lelaki itu meluncurkan
buku berjudul Indonesia Kita di hotel Hilton. Banyak sekali tokoh yang biasa kusaksikan di televisi, hadir di sana. Tapi  aku satu-satunya anak kecil yang muncul
di tempat itu.

Sebuah kehormatan, kata Ayah Bunda. Lelaki itu mengundangku untuk membacakan puisi-puisi karyaku sendiri yang waktu itu belum
dibukukan. Hanya beredar di internet. Aku ini siapa? Cuma anak delapan tahun. Bukan ranking I di sekolah. Aku tak mengerti, namun ia berharap aku hadir.

Aku pun datang bersama Ayah Bunda. Aku tampil, membacakan beberapa puisi dengan dada berdebar. Ribuan mata memandang. Gugup, untung tidak
tersandung. Dan ketika aku baru mau turun, ia naik ke atas panggung, memeluk, mencium dan menyalamiku. “Terus berkarya ya!” katanya sambil tersenyum menepuk-nepuk pundakku. Puluhan kamera membidik kami. Aku dan dia tersenyum. Lalu kurasakan energi besar tapi bukan dari matahari.

Setelah itu aku duduk menyaksikan ia berbicara tentang Indonesia. Sepertinya
menarik, meski aku mendengarnya sambil bolak balik mengambil makanan ringan dan
berat. Yang membuatku terkejut saat kemudian namaku kembali dipanggil ke depan.
Apalagi ya?

Aku tak menyangka. Lelaki itu memanggil nama beberapa tokoh untuk menerima buku
darinya. Ada Faisal Basri, Andi Malarangeng, Hidayat Nur Wahid serta nama-nama tokoh nasional lainnya.lalu terdengar: “Abdurahman Faiz!”

Ia tersenyum dan menyerahkan buku “Indonesia Kita” padaku. Jabat tangannya seakan
berkata: “Ini Indonesia kita, kita akan membangkitkannya kembali! Indonesia
menantimu!” Dan sekali lagi ia mencium pipiku.

Setelah pertemuan itu, seseorang memberiku gambar tempel banyak sekali. Ada wajah
lelaki itu dan tulisan “Cak Nur for President.” Maka aku menempelnya di mana-mana.
Di pintu kamar, di tembok, di pagar rumah. Juga di sampul buku-buku pelajaranku
sampai guruku heran dan menegur.

“Jangan marah, Pak. Jangan marah, Bu. Ini hanya gambar tempel.”

“Tidak, saya tidak kampanye,”

Itu kataku pada para guru dan teman-teman. Tapi lelaki itu mungkin pantas
dipertimbangkan.

Hari berlalu. Ia tak jadi presiden. Tapi ia tetap tersenyum dan memikirkan negeri
ini. Sejak tahun lalu kudengar ia sakit-sakitan. Berobat sampai ke luar negeri. Dan
aku? Gambar tempel itu masih banyak, jadi aku masih terus menempel meskipun presiden baru sudah terpilih (tahu kan aku sangat tergila-gila
pada gambar tempel?)

Maka siang itu, aku hampir tak percaya ia sudah benar-benar pergi. Baru dua tahun
setelah pertemuan pertama kami yang seru itu..

Aku pun menghapus setitik airmata. Tentu saja. Ada orang yang memang waktunya telah selesai. Jadi ia harus pergi. Lelaki itu: Eyang Nurcholis Majid memang harus pergi.
Namun mungkin ia tak pernah benar-benar pergi dari hati banyak orang di negeri ini..

Selamat jalan, Eyang ..

Semoga diterima semua amal ibadah, diampuni dosa-dosa yang ada..

Sampai bertemu kembali ya. Saat kita dibangkitkan, dan bersaksi tentang diri dan Indonesia kita..

Selamat istirahat panjang, Eyang….

– Abdurrahman Faiz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: